Artikel

Bagaimana PKBM menyikapi Revolusi Industri 4.0 ?

PKBM harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk didalamnya adalah Revolusi Industri 4.0 dimana akan merubah struktur lapangan kerja yang ada.
Tantangan ini harus menjadi perhatian agar Indonesia tetap bisa bersaing dimasa depan.

Berikut ini adalah sepuluh keterampilan yang akan mengisi lapangan kerja dimasa depan sebagaimana dirilis oleh Wolrd Economic Forum :

  1. Solving Complex Problems (menyelesaikan masalah yang rumit)
  2. Critical Thingking (Berfikir Kritis)
  3. Creativity (Kreativitas)
  4. Human Management (Manajemen Manusia)
  5. Coordinate with other (berkoordinasi/kerjasama dengan orang lain)
  6. Emotional Intellegence (Kecerdasan Emosional)
  7. Assessment and decision making (Penilaian dan membuat keputusan)
  8. Service Orientation (Orientasi pelayanan)
  9. Negotiations (Bernegosiasi)
  10. Cognitive Flexibility (Fleksibilitas Kognitif)

Bagaimana PKBM menghasilkan lulusan yang memenuhi hal tersebut ?
berfikir kritis, kreatif, memiliki kecerdasan emosi, mampu bekerjasama dengan orang lain, mampu mengambil keputusan?

Tentu proses pembelajaran, pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan PKBM selama ini sudah memenuhi beberapa syarat tersebut.
Mungkin tidak terlalu diperhatikan, karenanya untuk masa depan maka perhatian terhadap hal-hal tersebut harus ditekankan.
Seperti no.3 (Kreativitas) bahwa bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kreatif, mampu mencari solusi dan memecahkan masalah yang rumit, bisa terlihat dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Sekali lagi, Proses pendidikan, pelatihan dan pembelajaran yang saat ini sudah berlangsung di PKBM tentunya sudah mencakup hal tersebut, hanya perlu sedikit di pulas agar tampil lebih memukau……
Tentunya dengan peningkatan digital literacy yang mana diakui saat ini masih cukup besar. (Data Digital gap)

"Teknik pengukuran digital divide menggunakan teknik infostate yang diadopsi dari penelitian George Sciadas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks digital divide di propinsi di Indonesia paling besar dimiliki oleh propinsi Papua. Nilai kesenjangan digital paling rendah terhadap propinsi DKI Jakarta adalah propinsi D.I Yogyakarta. Prioritas pembangunan ICT di daerah sebaiknya dari propinsi dengan nilai indeks infostate paling kecil yaitu propinsi Papua, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah."

Sebuah laporan dibual oleh staf kemenkominfo tahun 2015 (Sri Ariyani, Studi Pengukuran Digital Divide di Indonesia) memberikan gambaran masyarakat Indonesia, sebagaimana kutipan di atas. Ini artinya bangsa Indonesia harus berjuang meningkatkan kemampuan digital dimasyarakat, khususnya yang masih kurang sebagaimana penelitian oleh Kemenkominfo diatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *