Artikel

Home Schooling Pilihan Pendidikan Masyarakat

Banyaknya orangtua yang tidak puas dengan hasil sekolah formal mendorong orangtua mendidik anaknya di rumah. Kerapkali sekolah formal berorientasi pada nilai rapor (kepentingan sekolah), bukannya mengedepankan keterampilan hidup dan bersosial (nilai-nilai iman dan moral). Di sekolah, banyak murid mengejar nilai rapor, dan perhatian secara personal pada anak kurang diperhatikan, ditambah lagi dengan perasaan anak yang kerap sekali mudah terpengaruh oleh lingkungannya, yang ditentukan oleh teman-temannya yang lebih pintar, lebih unggul dan kerap kali dijadikan korban "Bullying".

Tentunya akan berdampak kepada perkembangan psikologis dan prestasi belajar anak. Keadaan demikian menambah suasana sekolah menjadi tidak menyenangkan.

Ketidakpuasaan tersebut semakin memicu orangtua memilih mendidik anak-anaknya di rumah, dengan resiko menyediakan banyak waktu dan tenaga. Homeschooling menjadi tempat harapan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman/ agama dan moral serta mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.

  • Sejarah Singkat Homeschooling Di Indonesia

Istilah homeschooling merupakan khazanah relatif baru di Indonesia, yang sepenuhnya belum bisa kita pahami sepenuhnya,  Namun jika dilihat dari konsep homeschooling sebagai pembelajaran yang tidak berlangsung di sekolah formal alias otodidak, maka sekolah rumah sudah tidak merupakan hal baru,  

Banyak tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang  sudah mempraktekan home schooling yaitu,  Ki Hadjar Dewantara mengembangkan Perguruan Taman Siswa di Jawa Tengah pada 1922. Muhammad Sjafei mengembangkan INS Kayutanam di Padang Pariaman, Sumatera Barat pada 1926. Selain itu, ada KH.Agus Salim yang memilih tidak menyekolahkan anak-anaknya dan belajar secara otodidak di rumah. Selain itu juga banyak tokoh dunia 'lahir' dari Homeschooling, seperti Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Agatha Christie, Thomas A. Edison, George Bernard Shaw, Woodrow Wilson, Mark Twain, Charlie Chaplin, Charles Dickens dan Winston Churchill.

  • Negara Mengakui Homeschooling

Sebuah kemajuan yang telah dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini kebijakan mengenai pendidikan di Indonesia diatur dalam UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Di dalam UU tersebut, disebutkan mengenai keberadaan 3 (tiga) jalur pendidikan yang diakui pemerintah, yaitu: jalur pendidikan formal (sekolah), nonformal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan informal (pendidikan oleh keluarga dan lingkungan).

Kemudian dilanjutkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 129 Tahun 2014 tentang “Sekolah Rumah” (homeschooling). Pada Pasal 1 Ayat (4) disebutkan : yang dimaksud sekolah rumah adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain. Sementara bisa dalam bentuk tunggal, majemuk, dan komunitas  dimana proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana kondusif. Ini bertujuan agar setiap potensi peserta didik yang unik dapat berkembang secara maksimal. Pada pasal 7 Ayat (1) disebutkan : kurikulum yang diterapkan dalam sekolah rumah mengacu pada Kurikulum Nasional. Berikutnya, Ayat (3) : kurikulum yang dimaksud sebagaimana Ayat (1) yang digunakan dapat berupa kurikulum pendidikan formal atau kurikulum pendidikan kesetaraan, dengan memperhatikan secara lebih meluas atau mendalam bergantung pada minat potensi dan kebutuhan peserta didik.

Mengapa Memilih Homescholing ?

Di Amerika Serikat, pernah ada survey oleh National Center of Education Statistics (1999) mengenai alasan sebuah keluarga memilih homeschooling. Dari survey itu terpetakan alasan-alasan itu.

Tiga alasan tertinggi sebuah keluarga memilih homeschooling adalah:
1. Memberikan pendidikan yang lebih baik di rumah (48.9%)
2. Alasan agama/keyakinan (38.4%)
3. Lingkungan yang buruk di sekolah (25.6)

Hasil Survei Alasan Memilih Homeschooling 
National Center of Education Statistics (1999)

Untuk di Indonesia sendiri belum ada survey dan data yang dapat digunakan mengenai alasan keluarga di Indonesia memilih homeschooling, namun dari pengamatan selintas,  ada beragam alasan keluarga Indonesia memilih homeschooling. Ada yang memilih homeschooling karena alasan praktis, misalnya: anak mogok sekolah, trauma karena bullying, orangtua berpindah-pindah kerja, dan sebagainya.  

Ada keluarga lain yang memilih homeschooling karena alasan yang lebih filosofis/ideologis: mencari  pendidikan yang lebih baik daripada sekolah, ingin mengembangkan sebuah model pendidikan tertentu (agama, keterampilan, profesi), dan sebagainya. Tentu saja, banyak alasan lain yang mungkin belum tersebutkan. Dan sangat mungkin, alasan sebuah keluarga memilih homeschooling bisa lebih dari satu alasan.                                             
Brian D. Ray (2015) dalam hasil penelitiannya di Amerika Serikat yang berjudul 'Research Facts on Homeschooling' menyebutkan bahwa:

  1. Anak-anak yang homeschooling terbukti memiliki kemampuan akademik yang lebih tinggi dibanding anak yang menghabiskan waktu di sekolah, karena lingkungan belajar yang menyenangkan, memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
  2. Dengan homeschooling, anak-anak dilatih untuk mengembangkan kapasitas anak.
  • Anak yang belajar di rumah biasanya meraih nilai 15 hingga  30% lebih tinggi dibanding anak yang belajar di sekolah negeri dalam ujian.
  • Nilai siswa homeschooling di atas rata-rata tes tanpa memandang level pendidikan dan penghasilan keluarga.
  • Tidak ada kaitan antara kemampuan akademik anak dengan orangtua memiliki kualifikasi untuk mengajar atau tidak.
  • Peraturan tentang homeschooling dan tingkat pengawasan negara tidak berhubungan dengan pencapaian akademik siswa.
  • Anak yang belajar di rumah biasanya mendapat nilai di atas rata-rata dalam test SAT dan ACT sebagai persyaratan untuk masuk perguruan tinggi.
  • Semakin banyak siswa homeschooling yang diterima oleh perguruan tinggi.                                                             

3. Homeschooling dapat menyeimbangkan antara teori dan life-skills  dengan mengenalkan anak pada 'dunia nyata' bahkan ketika mereka masih belajar. Karena teori yang mereka dapat dibarengi oleh pembelajaran life-skills yang mengajarkan mereka untuk mengaplikasikan apa yang mereka dapat ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sudah saatnya pemerintah lebih memfokuskan pada pembelajaran materi yang benar-benar diperlukan di tengah masyarakat dan bukan hanya sekedar teori 'pepesan kosong' yang menjadikan lulusan tidak siap.

4. Mengurangi 'juvenile delinquency' Tawuran, seks bebas, narkoba atau kekerasan terhadap guru kerap mewarnai halaman-halaman media berita di Indonesia. Fenomena ini membuktikan pendidikan di Indonesia gagal melahirkan pribadi yang memiliki 'akhlakul karimah'. Pengawasan yang kendor menjadi salahsatu sebab mengapa kenakalan remaja makin hari makin meningkat. Bahkan banyak kasus terjadi di lingkungan sekolah saat jam belajar masih berlangsung. Guru disibukkan untuk mengejar sertifikasi atau mengerjakan administrasi yang pada hakikatnya tidak menyumbang apapun terhadap perbaikan siswa.

5. Mengembalikan fungsi ibu sebagai madrasah pertama dan utama 
Allah SWT berfirman dalam Q.S. an-Nisa ayat 9 yang artinya: 
"Dan hendaklah mereka takut kepada Allah seandainya mereka meninggalkan sepeninggal mereka anak keturunan yang lemah. Hendaklah mereka khawatir terhadap mereka."

Homeschooling bisa memaksimalkan peran ibu sebagai madrasah pertama dan utama. Ibu yang cerdas berpotensi untuk melahirkan anak yang cerdas pula. Sehingga untuk menyiapkan generasi yang unggul, seorang ibu juga harus memiliki bekal ilmu yang cukup. Banyak yang beranggapan bahwa jika sebuah keluarga memutuskan untuk homeschooling anak-anaknya, maka guru anaknya adalah ibunya. 
Namun, itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Karena sejatinya, ibu berperan sebagai kepala sekolah yang memastikan anak didiknya menjalankan kurikulum individu secara maksimal dalam lingkungan belajar yang kondusif. Generasi qurrata a'yun bisa diraih jika ibu bisa melakukan pengawasan secara penuh terhadap pendidikan anak-anaknya.

Homeschooling bisa menjadi jawaban dari kebuntuan dari kebingungan pemerintah dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Alih-alih melakukan bongkar pasang kurikulum atau kebijakan ujian nasional, homeschooling bisa hadir sebagai alternatif dalam memaksimalkan penggunaaan anggaran pendidikan di negeri kita tercinta ini.

Sumber :                                                                                                                       http://homeschoolingyoo.blogspot.com/                                                     
https://klastulistiwa.com/2015/09/20/peraturan-dan-legalitas-homeschooling-di-indonesia/                                                    
https://www.kompasiana.com/maya1209/5a99251ecbe5232bc949e743/homeschooling-sebuah-alternatif-memperbaiki-kualitas-pendidikan?page=all

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *