Depok, 28 September 2026
Bagi sebagian orang, coretan di dinding mungkin hanya terlihat sebagai kenakalan anak kecil. Namun, bagi keluarga Muhammad Haidar Abdullah, coretan-coretan itu justru menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang untuk menemukan potensi dan passion yang dimilikinya.
Kak Haidar, murid SQuAD Inklusi PKBM Generasi Juara Semarang, telah menekuni dunia seni lukis sekitar 3 Tahun Haidar mulai memegang pensil, krayon, spidol dari usia sekitar 3 tahun, mulai dari hanya coret – coret hingga akhirnya berbentuk dan mulai dapat dikenali.
Sejak usia 3 hingga 16 tahun adalah masa ibunda Kak Haidar berjuang membesarkan, membimbing dan berjibaku untuk membuat perilaku dan kognitif kak haidar menjadi lebih baik. Ibunda kak haidar terlalu fokus pada terapi, diet dan lain – lain, hingga belum memikirkan minat dan bakatnya. Ketika kak haidar semakin berkembang, baik perilaku, kognitif dan ketenangan saat belajar, ibunda kak haidar mulai berfikir untuk mendaftarkan kursus menggambar. Seminggu setelah les ibunda kak haidar mendapat ide untuk meminta gurunya mengajarkan kak haidar melukis dan ternyata kak haidar bisa.
Alih-alih hanya melihatnya sebagai sebuah kenakalan, keluarga Haidar memilih melihat lebih jauh. Di balik coretan tersebut, mereka melihat potensi yang perlu diarahkan. Dari sanalah kak Haidar mulai dikenalkan pada media yang tepat : kertas, kuas, dan cat warna hingga coretan yang dahulu sederhana perlahan berkembang menjadi karya yang memiliki cerita. Namun, perjalanan itu tentu tidak selalu mudah.
Ada masa ketika kak Haidar mengalami meltdown. Ada hari-hari ketika proses terapi terasa berat dan melelahkan. Tetapi di tengah berbagai tantangan tersebut, Haidar dan keluarganya memilih untuk terus bertahan, terus mencoba, dan terus memberikan ruang bagi dirinya untuk berkembang.
Karena terkadang, sebuah potensi tidak tumbuh dalam satu malam. Ia membutuhkan kesabaran, pendampingan, kesempatan, dan keberanian untuk terus mencoba. Sedikit demi sedikit, kak Haidar belajar untuk konsisten. Apa yang dahulu hanya berupa coretan, kini berubah menjadi lukisan yang penuh warna, bentuk, detail, dan cerita.
Perjalanan Kak Haidar juga telah membawanya pada berbagai pengalaman berharga. Salah satu karyanya pernah dipamerkan dalam acara Pelatihan Totok Punggung di Hotel Grasia Semarang yang dibuka oleh Wakil Wali Kota Semarang. Dalam kesempatan tersebut, salah satu lukisan Haidar bahkan dibeli oleh beliau.
Bagi Haidar dan keluarga, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang sebuah lukisan yang terjual. Lebih dari itu, menjadi sebuah pengalaman yang menunjukkan bahwa karya yang lahir dari proses dan ketekunan dapat menemukan tempatnya untuk dihargai.
Kini, perjalanan seni Haidar memasuki babak baru.
Sebanyak 15 lukisan karya Kak Haidar akan dipresentasikan dalam Pameran Seni Rupa “Struggle” yang akan diselenggarakan di Hotel Grand Rohan, pada 26 September–26 Desember 2026.
Pameran ini akan dibuka oleh Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Guru Besar Universitas Gadjah Mada. Pameran juga melibatkan Dr. Muksin, S.Sn., M.Sn., dosen FSRD ITB, yang bertindak sebagai kurator.
Pembukaan pameran akan semakin semarak dengan berbagai penampilan, mulai dari stand-up comedy, pembacaan puisi oleh Tasbir Tahir Abdullah, A.S.H., M.Hum., pakar pariwisata sekaligus pemerhati seni rupa, hingga penampilan musik gitar akustik oleh Irwan Sukendra.
Bagi Haidar, Struggle bukan sekadar nama sebuah pameran.
“Struggle” berarti pergulatan.
Sebuah kata yang begitu dekat dengan perjalanan Haidar. Pergulatan untuk belajar, pergulatan untuk mencoba, pergulatan untuk melewati hari-hari yang tidak selalu mudah, sekaligus pergulatan untuk terus menemukan kemungkinan-kemungkinan baru melalui seni.
Ketertarikan Kak Haidar terhadap bentuk, warna, dan detail menjadi bagian dari caranya menerjemahkan apa yang ia lihat dan rasakan ke dalam sebuah karya.
Setiap sapuan kuas menjadi bagian dari proses.
Setiap warna menjadi bagian dari cerita.
Dan setiap lukisan menjadi bukti bahwa sebuah potensi, ketika diberikan ruang untuk tumbuh, dapat berkembang menjadi sesuatu yang luar biasa.
Perjalanan Kak Haidar mengajarkan kita bahwa setiap anak memiliki cara masing-masing untuk bersinar. Tugas kita bukan selalu memaksa mereka berjalan di jalan yang sama, melainkan hadir untuk membantu mereka menemukan jalan yang sesuai dengan potensi dan dunianya.
Dari sebuah coretan di dinding, Haidar menemukan kanvas untuk bercerita. Dari proses yang tidak selalu mudah, lahir karya-karya yang kini dapat dinikmati lebih banyak orang. Dan dari perjalanan panjang itu, Kak Haidar menunjukkan satu hal penting:
Bakat mungkin menjadi awal, tetapi keberanian untuk terus mencoba dan konsisten dalam proseslah yang membuatnya bertumbuh menjadi karya. Semoga langkah Kak Haidar terus menjadi perjalanan yang penuh warna, membuka semakin banyak ruang untuk berkarya, berekspresi, dan menginspirasi.
Karena setiap anak memiliki cerita.
Dan setiap karya adalah salah satu cara untuk menceritakannya.
Salam Generasi Juara