Depok,20 Mei 2026
Dikutip dari www.detik.com Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi kembali menjadi perhatian dunia internasional. Sepanjang tahun 2025, kawasan pembuangan sampah terbesar di Indonesia ini tercatat sebagai penghasil emisi gas metana terbesar kedua di dunia setelah TPA Campo de Mayo di Argentina.
Temuan tersebut dirilis oleh UCLA Emmett Institute melalui STOP Methane Project pada April 2026 berdasarkan pemantauan satelit Carbon Mapper. Dari hasil pengamatan itu, Bantargebang diketahui menghasilkan lebih dari enam ton gas metana setiap jamnya. Angka tersebut menjadi peringatan serius terhadap dampak lingkungan dan perubahan iklim yang ditimbulkan dari pengelolaan sampah yang belum optimal.
Menanggapi kondisi tersebut, anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menilai persoalan emisi metana di Bantargebang harus menjadi momentum perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah di Jakarta. Menurutnya, penanganan sampah tidak cukup hanya dilakukan di hilir, tetapi harus dimulai dari sumbernya.
Ia menekankan pentingnya revolusi pengelolaan sampah berbasis pengurangan sampah rumah tangga, pemilahan sampah sejak awal, penguatan sistem daur ulang, hingga pemanfaatan teknologi pengolahan modern yang lebih ramah lingkungan.
Rahasia di Balik Gas Metana Bantargebang
Pakar biorefinery limbah hayati dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Hanifrahmawan Sudibyo, menjelaskan bahwa tingginya emisi metana berasal dari proses alami pembusukan sampah organik di dalam tumpukan sampah yang lembap dan minim oksigen.
Kondisi tersebut menciptakan zona anaerob, yaitu lingkungan tanpa udara yang menjadi tempat ideal bagi mikroorganisme penghasil metana atau arkea metanogenik berkembang biak. Mikroorganisme inilah yang memproses limbah organik dan menghasilkan gas metana dalam jumlah besar.
Mekipun metana merupakan bagian dari siklus karbon,konsentrasi yang terlalu tinggi di tempat pembuangan akhir menjadi ancaman serius bagi lingkungan.Gas metana diketahui memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam periode waktu tertentu.Karena itu,tingginya emisi metana di Bantargebang menjadi alam penting bagi pengendalian gas rumah kaca dan upaya menghadapi perubahan iklim global.
Potensi Besar Menjadi Sumber Energi
Di balik ancaman tersebut, gas metana sebenarnya memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik. Hanif menjelaskan bahwa emisi gas dari Bantargebang dapat dimanfaatkan melalui teknologi methane capture atau penangkapan gas landfill.
Teknologi ini bekerja dengan memasang jaringan pipa di dalam tumpukan sampah untuk menangkap gas metana sebelum terlepas ke atmosfer. Gas yang terkumpul kemudian dimurnikan dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik berbasis biogas.
Pemanfaatan ini dinilai mampu menjadi solusi ganda, yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menghasilkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Namun,keberhasilan sistem tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,mulai dari kebijakan pemerintah,kesadaran masyarakat dalam memilah sampah,hingga kesiapan sektor energi nasional untuk memanfaatkan sumber energi biogas secara optimal.
Alarm dari Teknologi Satelit
Perkembangan teknologi luar angkasa kini membuat emisi metana yang sebelumnya sulit terdeteksi menjadi lebih mudah dipantau. UCLA Emmett Institute mengungkapkan bahwa satelit Tanager-1 dan instrumen EMIT milik NASA berhasil memetakan lebih dari 2.900 semburan emisi metana di 707 lokasi di seluruh dunia.
Direktur Eksekutif UCLA Emmett Institute, Cara Horowitz, menyebut teknologi satelit ini sebagai titik balik penting dalam perlindungan lingkungan global.
Menurutnya, selama bertahun-tahun gas metana dianggap sebagai polutan tersembunyi karena tidak terlihat secara kasat mata. Kini, keberadaan satelit mampu menunjukkan lokasi-lokasi emisi besar secara nyata dan menjadi alarm peringatan bagi dunia.
Temuan mengenai tingginya emisi metana di Bantargebang menjadi pengingat penting bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat, kualitas udara, dan perubahan iklim global.
Dengan lokasi TPST yang berdekatan dengan kawasan permukiman padat penduduk, langkah nyata dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat dapat segera diminimalkan.
Sumber artikel : Detik.com